Kamis, 12 Juni 2014

Andragogi dan pedagogi






Bicara tentang pengalaman, kita semua pasti punya pengalaman apalagi dalam dunia pendidikan. Masa sekolah adalah masa yang paling indah saat bisa merasakan bagaimana proses belajar bersama teman dikelas, interaksi dengan guru, meratiin guru ngajar, mencerna apa yang guru bilang, bagaimana cara kita untuk bisa ngerti, ditanya bingung bagaimana menyampaikan apa yag tidak dimengerti. Tapi itu adalah sebagian dari proses untuk mencapai ilmu,
Sebelum menceritakan pengalaman penulis tentang Andragogi dan pedagogi penulis akan menjelaskan terlebih dahulu apasih Andragogi dan pedagogi itu????????

Andragogi berasal dari dua kata dalam bahasa Yunani, yakni ‘Andra’ berarti orang dewasa dan ‘Agogos’ berarti memimpin. Andragogi kemudian dirumuskan sebagai "Suatu seni dan ilmu untuk membantu orang dewasa belajar". Kata andragogi pertama kali digunakan oleh Alexander Kapp pada tahun 1883 untuk menjelaskan dan merumuskan konsep-konsep dasar teori pendidikan Plato. Kapp membedakan antara pengertian "Social-pedagogy" yang menyiratkan arti pendidikan orang dewasa, dengan Andragogi. Dalam rumusan Kapp, "Social-pedagogy" lebih merupakan proses pendidikan pemulihan (remedial) bagi orang dewasa yang cacat. Adapun andragogi, justru lebih merupakan proses pendidikan bagi seluruh orang dewasa, cacat atau tidak cacat secara berkelanjutan.
Andragogi
Pengalaman penulis tentang andragogi yaitu pada waktu penulis kuliah pada saat kuliah penulis lebih dituntut untuk berfikir secara kreatif karena pada saat kuliah dosen hanya bertugas untuk memfasilitasi dan mengarahkan siswa saja. Pada saat kuliah berlansung dosen memberikan sebuah kasus atau masalah maka kita lah yang akan menyelesaikannya bersama teman-teman sekelompok maupun bersama-sama pada saat perkuliahan. Adanya metode  persentasi, pada saat persentasi itu kita juga dituntut untuk berfikir kreatif dan mampu memberikan pertanyaan, sanggahan, kritikan maupun saran kepada teman-teman lain yang sedang persentasi. Jika persentasi berlangsung dan pemakalah ada kesalahan saat penyampaian audient diharapkan dapat meluruskan setelah itu baru Dosen yang menyempurnakannya.
Pada saat kuliah kita juga diajarkan bagaimana menghargai pendapat orang lain, jika dosen bertanya dan kita menjawab mak dosen tidak pernah sama sekali menatakan bahwa pendapat atau jawaban kita kurang tepat selain itu tugas yang diberikan dosen dapat kita selesaikan tepat pada waktu nya.
Pada saat kuliah teknologi yang kita gunakan juga bersifat modrent seperti SPSS, kuliah secara online yang mungkin jarang bahkan tidak pernah didapatkan dari SMA.
dikuliah ini juga sebelum perkuliahan berlangsung siswa sudah terlebih dahulu membaca materi yang akan dipelajari pada esok kuliah berlangsung, dan jika ada materi yang tidak dipahami maka teman-teman yang tau boleh menjelaskan kepada temannya yang tidak tau setelah itu ditambah dengan penjelasan dosen.
Jadi kesimpulannya adalah disini siswa lebih dituutut untuk berfikir kreatif sekaligus mandiri….dan pada  pembelajaran ini para siswa juga diajarkan kekompakan sehingga dapat menjalankan kerjasama yang baik dan menimbulkan ide atau suatu gagasan baru didalam suatu  kelompok tersebut.
Sekedar info  saya dengar dari telivisi cara ini juga sudah mulai diterapkan  pada anak SMP dan SMA sesuai dengan kurikulum yaitu Kurikulum 2013. Sesuai denagn pendapat para ahli Psikologi Pendidikan yaitu Jhon Dawey yang pertama kita mendapatkan anak sebagai pembejar aktif dan yang kedua bahwa  seharusnya pendidikan difokuskan pada anaak secara keseluruhan dan memperkuat kemapuan anaak untuk berdaptasi denagn lingkungannya.
Pedagogi
Metode ini memakai cara pembelajaran yaitu berpusat pada guru atau pengajar. Siswa hanya mendenarkan apa yang disampaikan oleh guru sangat berbeda dengan apa yang disampaikan oleh Jhon Dawey.
Pada pembelajaran ini siswa cenderung pasif dari pada berfikir secara kreatif, pada saat pemberian tugas siswa juga diharuskan mengikuti apa yang disampaikan oleh buku tanpa diberikan kebebasan berfikir. Guru juga hanya memakai buku panduan saja dan terkadang sedikit menambahkan pengalaman yang dialaminya,,,ketika seorang guru memberikan pekerjaan rumah guru hanya cenderung menyampaikan apa yang ada didalam buku tanpa mengetahui metode apa yang disenangi oleh siswa dan apa yang dibutuhkan siswa saat belajar maupun dalam mengerjakan tugas.Pada saat SMA banyak juka teknologi yang tidak diajarkan dan baru mulai dikenal dari perkuliahan saja, selain itu kami mengganggap bahwa sekolah itu digunakan untuk memproleh nilai tertinggi dan lulus dengan nilai terbaik tanpa memperhatikan sejauh mana pengetahuan yang kami dapat dari sekolah sebagai seorang yang di  didik.
Jadi kesimpulannya didalam metode ini siswa hanya mendenarkan apa yang diasampaikan oleh guru yang cenderung pasif daripada kreatif.

 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar