Jumat, 09 Mei 2014

INTELGENSI



Intelgensi adalah keahlian memecahkan masalah dan kemampuan untuk beradaptasi pada, dan belajar dari, pengalaman hidup sehari-hari (Santrock).
            Konsep intelejensi ini sendiri sering menimbulkan kontroversi dan debat panas, sering kali sebagai reaksi terhadap gagasan bahwa setiap orang punya kapasitas umum yang dapat diukur dan dikuantifikasi dalam angka.
            Terdapat beberapa tes intelegensi seperti Tes Binet, Skala Wechsler, dan tes intelegensi kelompok. Namun di Indonesia, kebanyakan psikolog menggunakan Skala Wechsler untuk mengukur tes intelegensi seseorang.

 


1.      Tes Intelejensi Individual
            Tes Binet
Binet mengembangkan konsep Mental Age (MA) atau usia mental, yaitu level perkembangan mental individu yang berkaitan dengan perkembangan lain. Tak lama kemudian, pada 1912 William Stern menciptakan konsep Intelligence Quotient (IQ), yaitu usia mental seseorang dibagi dengan usia kronologis (CA), dikalikan 100. Jadi rumusnya adalah, IQ = MA/CA x 100. Jika usia mental sama dengan usia kronologis, maka IQ orang itu adalah 100. Jika usia mental di atas usia kronologis, maka IQnya lebih dari 100. Misalnya, anak 6 tahun dengan usia mental 8 tahun akan punya IQ 133. Jika usia mentalnya dibawah usia kronologis, maka IQ nya dibawah 100. Misalkan anak usia 6 tahun dengan usia mental 5 tahun akan punya IQ 83.

            Skala Wechsler
Tes ini mencakup Wechsler Preschool and Primary Scale of Intelligence-Revised (WPPSI-R) untuk menguji anak usia 4 sampai 6 1/2 tahun, Wechsler Intelligence Scale for Chidren-Revised (WISC-R) untuk anak dan remaja dari usia 6 hingga 16 tahun, dan Wechsler Adult Intelligence Scale-Revised (WAIS-R). Selain menunjukkan IQ keseluruhan, skala Wechsler juga menunjukkan IQ verbal dan IQ kinerja. IQ verbal didasarkan pada 6 subskala verbal, IQ kinerja didasarkan pada 5 subskala kinerja. Ini membuat peneliti bisa melihat dengan cepat pola-pola kekuatan dan kelemahan dalam area inteligensi murid yang berbeda-beda (Woolger, 2001).


2.      Teori Multiple Intelligences
Teori Triarkis Sternberg
Menurut teori inteligensi triarkis dari Robert J. Stenberg (1986, 200), inteligensi muncul dalam bentuk : analitis, kreatif dan praktis. Inteligensi analitis adalah kemapuan untuk menganilisis, menilai, mengevaluasi, memandingkan, dan mempertentangkan. Inteligensi kreatif adalah kemampuan untuk mencipta, mendesain, menciptakan, menemukan dan mengimajinasikan. Inteligensi praktis fokus pada kemampuan untuk menggunakan, megaplikasikan, mengimplementasikan, dan mempraktikkan.
Delapan Kerangka Pikiran Gardner
Howard Gardner ( 1983, 1993, 2002) percaya bahwa ada banyak tipe inteligensi spesifik atau kerangka pikiran. Kerangka ini dideskripsikan bersama dengan contoh pekerjaan yang merefleksikan kekuatan masing-masing kerangka (Campbell, Campbell & Dicksinson, 1999) : 
  1. Keahlian verbal
  2. Keahlian matematika
  3. Keahlian spasial
  4. Keahlian tubuh-kinestetik
  5. Keahlia musik
  6. Keahlian intrapersonal
  7. Keahlian interpersonal
  8. Keahlian naturalis
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Intelegensi
a. Pengaruh faktor bawaan
Banyak penelitian yang menunjukkan bahwa individu-individu yang berasal dari suatu keluarga, atau bersanak saudara, nilai dalam tes IQ mereka berkolerasi tinggi ( + 0,50 ), orang yang kembar ( + 0,90 ) yang tidak bersanak saudara ( + 0,20 ), anak yang diadopsi korelasi dengan orang tua angkatnya ( + 0,10 – + 0,20 ).
b. Pengaruh faktor lingkungan
Perkembangan anak sangat dipengaruhi oleh gizi yang dikonsumsi.
c. Stabilitas intelegensi dan IQ
Intelegensi bukanlah IQ. Intelegensi merupakan suatu konsep umum tentang  kemampuan individu, sedang IQ hanyalah hasil dari suatu tes intelegensi.
d. Pengaruh faktor kematangan
Tiap organ dalam tubuh manusia mengalami pertumbuhan dan perkembangan.
e. Pengaruh faktor pembentukan
Pembentukan ialah segala keadaan di luar diri seseorang yang mempengaruhi perkembangan intelegensi.
Karakteristik tes intelegensi yang baik
ü  Standarisasi     : Tes disusun dengan cara yang sama untuk semua individu.
ü  Norma             : Memiliki norma sebagai acuan untuk membandingkan nilai tes yang diperoleh.
ü  Objektif           :  Tidak boleh bersifat subjektif agar tidak terjadi ambiguitas.
ü  Reliable           :  Menghasilkan nilai yang sama jika tes dilakukan pada situasi yang berbeda.
ü  Valid               : Tes digunakn untuk mengukur apa yang harus diukur.
Fakor yang mempengaruhi kemampuan belajar peserta didik
Menurut slameto (2010 : 54) ada dua faktor yang mempengaruhi keberhasilan belajar, yaitu faktor intern dan faktor ekstern.
  • Faktor intern terdiri dari :
    • Faktor jamaniah antara lain, faktor kesehatan.
    • Faktor psikologi yaitu, intelegensi, perhatian, minat, bakat, motif kematangan dan kesiapan.
    • Faktor kelelahan, faktor kelelahan sangat mempengaruhi hasil belajar , agar siswa dapat belajar dengan baik haruslah menghindari jangan sampai terjadi kelelahan dalam belajarnya.
  • Faktor ektern terdiri dari :
o   Faktor keluarga, seperti cara orang tua mendidik, relasi antara anggota, suasana rumah, keadaan ekonomi keluarga,pengertian orang tua, dan latar belakang kebudayaan.
o   Faktor sekolah, seperti metode mengajar, kurikulum relasi guru dengan siswa. Disiplin sekolah, alat pelajaran, waktu sekolah, standart pelajaran diatas ukuran, keadaan gedung, metode belajar, dan tugas rumah.
o   Faktor masarakat seperti kegiatan siswa dalam masyarakat, teman bergaul, dan bentuk kehidupan masyarakat.
Refrensi :
1.      http :// jimmyandriao. Blogspot,com/2013/09/ psikologi pendidikan. Html
2.      Lahey, B. B. 2005. Psychology : An Introduction (9th). New York : Mc Graw Hill
3.      Santrock.J.W. (2008). Psikologi Pendidikan (edisi kedua). Jakarta: Prenada Media Group
 





                                                                                                     

Tidak ada komentar:

Posting Komentar