Proses
belajar atau pembelajaran adalah fokus utama dalam psikologi pendidikan. Ketika
orang ditanya apa fungsi sekolah, maka biasanya mereka menjawab, “membantu
murid untuk belajar”. Belajar adalah proses perubahan dari tidak bisa menjadi bisa, dan sifatnya terus
menerus. Istilah pembelajaran (learning) dapat
didefinisikan sebagai pengaruh permanen atas prilaku, pengetahuan, dan
keterampilan berpikir, yang diperoleh melalui pengalaman. Cakupan pembelajaran
sangat luas (Domjan, 2000, 2002). Pembelajaran melibatkan prilaku akademik dan
non—akademik. Pembelajaran berlangsung di sekolah dan di mana saja di seputar
dunia anak.
Pendekatan
Behavioral dan Kognitif dalam Pembelajaran
Behaviorisme adalah pandangan yang
menyatakan bahwa perilaku harus dijelaskan melalui pengalaman yang dapat
diamati, bukan dengan proses mental. Menurut kaum berhavioris, perilaku adalah
segala sesuatu yang kita lakukan dan bisa dilihat secara langsung. Misalnya,
anak membuat poster, guru tersenyum pada anak, murid mengganggu murid lain, dan
sebagainya. Menurut Behavioris, proses mental seperti pemikiran, perasaan, dan
motif, bukan subjek yang tepat untuk ilmu perilaku sebab semuanya itu tidak
bisa diobservasi secara langsung.
Kognitif menurut Muhibbin Syah adalah
pandangan yang lebih menekankan arti penting proses internal,
mental manusia. Dalam pandangan para ahli kognitif, tingkah laku manusia yang
tampak tak dapat diukur dan diterangkan tanpa melibatkan proses mental, seperti
: motivasi, kesenjangan, keyakinan, dan sebagainya. Psikologi
semakin cenderung kepandangan kognitif selama dekade terakhir abad ke-20 dan
penekanan kognitif ini terus berlanjut
sampai sekarang. Dalam bukunya Sntrock mengemukakan ada empat pendekatan
kognitif dalam pembelajaran, yaitu: Kognitif Sosial, Pemrosesan Informasi
Kognitif, Konstruktivis Kognitif, dan Konstruktivis Sosial.
Dalam pendekatan Behavioral,
banyak pendekatan dalam pembelajaran yang dikemukakan oleh para ahli,
diantaranya adalah: Pengkondisian
Klasik, yang ditemukan dari hasil eksperimen Ivan Pavlof, seorang psikolog
Rusia pada awal tahun 1900-an, mengemukanakan suatu tipe pembelajaran di mana
suatu organisme belajar untuk mengaitkan atau mengasosiasikan stimulus. Dalam
pengkondisian klasik, stimulus netral (seperti melihat sesorang) diasosiasikan
dengan stimulus yang bermakna (seperti makan) dan menimbulkan kapasitas untuk
mengeluarkan respon yang sama. Untuk memahami teori Pavlov tersebut, kita harus
memahami dua tipe stimuli dan dua tipe respons: unconditioned stimulus (US), unconditioned
response (UR), conditioned stimulus (CS),
dan conditioned respons (CR).
Pengkondisian klasik merupakan sebentuk pembelajaran asosiatif dimana stimulus
netral menjadi diasosiasikan dengan stimulus yang bermakna dan menimbulkan
kemampuan untuk mengeluarkan respon yang serupa.
Pendekatan behavioral dalam
pembelajaran yang lain adalah Pengkondisian
Operan. Pengkondisian operan juga dinamakan pengkondisian instrumental
adalah sebentuk pemberlajaran di mana konsekuensi-konsekuensi dari prilaku
menghasilkan perubahan dalam probabilitas prilaku itu akan diulangi.
Pengkondisian klasik merupakan hasil pandangan dari tokoh psikolog E. L
Thorndike dan Skinner. Dari hasil penelitiannya Thorndike mengemukakan hukum efek (law effect) yang menyatakan bahwa prilaku yang dikuti dengan hasil
positif akan diperkuat dan bahwa prilaku yang diikuti hasil negatif akan
diperlemah. Kemudian Skinner memperluas ide Thorndike ini dengan penguatan (reinforcement) dalam meningkatkan
probabilitas bahwa suatu prilaku akan terjadi dan hukuman (punishment) yang
merupakan konsekuensi yang menurunkan probabilitas suatu prilaku akan terjadi.
Maka disini terdapat penguatan yang positif dan penguatan yang negatif.
Analisis
Prilaku Terapan dalam Pendidikan
Analisis
perilaku terapan adalah penerapan prinsip pengkondisian operan untuk mengubah
prilaku manusia. Ada tiga penggunaan analisis prilaku yang penting dalam bidang
pendidikan, yaitu: meningkatkan prilaku
yang diinginkan, menggunakan dorongan (prompt)
dan pembentukan (shapping), dan
mengurangi prilaku yang tidak diharapkan. (Alberto & Troutman, 1999).
Aplikasi analisis prilku terapan seringkali menggunakan serangkaian langkah.
Langkah ini biasanya dimulai dengan beberapa observasi umum dan kemudian menentukan
perilaku sasaran spesifik yang perlu diubah, dan mengamati kondisi
antesedennya. Kemudian ditentukan tujuan behavioralnya, memperkuat atau
menghukum perilaku yang dipilih, melakukan program manajemen perilaku, dan
mengevaluasi kesuksesan atau kegagalan program tersebut.
Pendekatan
Kognitif dalam Pembelajaran
Sebaimana
yang telah dikemukakan pada bagian sebelumnya ada 4 (empat) pendekatan kognitf
dalam pembelajaran, yaitu: Kognitif Sosial, Pemrosesan Informasi Kognitif,
Konstruktivis Kognitif, dan Konstruktivis Sosial. Kita akan mempelajari lebih
lanjut tentang pendekatan-pendekatan ini.
Teori Kognitif Sosial Bandura menyatakan
bahwa faktor sosial dan kognitif, dan juga faktor prilaku, memainkan peran
penting dalam pemberlajaran. Arsitek utama teori kognitif sosial adalah Albert
Bandura (1986). Dia menagatakan bahwa ketika murid belajar, mereka dapat
mempresentasikan pengalaman mereka secara kognitif. Faktor kognitif mencakup
ekspektasi, keyakinan, strategi, pemikiran dan kecerdasan. Bandura mengemukakan:
ü Kognisi
mempengaruhi perilaku.
ü
Perilaku mempengaruhi kognisi.
ü
Lingkungan mempengaruhi prilaku.
ü
Perilaku mempengaruhi lingkungan.
ü
Kognisis mempengaruhi lingkungan.
ü
Lingkungan mempengaruhi kognisi.
Kontibusi
lain dari Bandura adalah pemberlajaran observasional yang melibatkan faktor
kognisi. Pembelajaran observasional
juga dinamakan imitasi atau modeling,
adalah pembelajaran yang dilakukan ketika seseorang mengamati dan meniru
perilaku orang lain. Kapasitas untuk mempelajari pola perilaku dengan observasi
dapat mengeleminasi pembelajaran trial
and error yang membosankan. Dalam banyak kasus, pembelajaran observasional
membutuhkan lebih sedikit waktu ketimbang pengkondisian operan. Model
pembelajaran kontemporer Bandura memfokuskan pada proses spesifik dalam
pembelajaran, yaitu: Atensi (perhatian),
retensi, produksi, dan motivasi.
Pendekatan pemrosesan informasi menyatakan
bahwa murid mengolah informasi, memonitornya, dan menyusun strategi berkenaan
dengan informasi tersebut. Inti dari pendekatan ini adalah proses memori dan
proses berpikir (thingking). Menurut
pendekatan ini, anak secara bertahap mengembangkan kapasitas untuk memproses
informasi, dan karenanya secara bertahap pula mereka bisa mendapatkan
pengetahuan dan keahlian yang kompleks. Salah seorang tokoh pendekatan
permrosesan informasi adalah Robert Siegler (1998), yang mendeskripsikan tiga
karakteristik utama dari pendekatan pemrosesan informasi tersebut, yaitu:
proses berpikir, mekanisme pengubah, dan modifikasi diri. Siegler berpendapat dalam
pemrosesan informasi fokus utamanya adalah pada peran mekanisme pengubah dalam
perkembangan. Dia percaya ada empat mekanisme yang bekerjasama dalam perubahan
kognitif anak, yaitu: encoding (penyandian), otomatisasi, konstruksi strategi, dan
generalisasi.
Memori atau
ingatan adalah retensi informasi. Para psikolog mempelajari bagaimana nformasi
disimpan dan diletakkan di dalam memori, bagaimanak ia dipertahankan atau
disimpan setelah disandikan (encoded), dan
bagaimana ia ditemukan atau diungkap kembali untuk tujuan tertentu dikemudian
hari.
Encoding
= memasukkan informasi kedalam memori.
Penyimpanan
= mempertahankan informasi dari waktu ke waktu.
Pengambilan
= mengambil informasi dari gudang memori.
Pengulangan (rehearsal), adalah
repetisi informasi dari waktu ke waktu agar informasi lebih lamba berada di
dalam memori. Pengulangan akan bekerja dengan baik apabila murid menyandikan
dan mengingat daftar item untuk priode
waktu yang singkat. Pemrosesan informasi selanjutnya setelah pengulangan adalah
pemrosesan mendalam.
Penyimpanan, setelah
menyandikan informasi, murid perlu mempertahankan atau menyimpan informasi.
Tiga simpanan utama dalam memori adalah:
1.
Memori sensoris, yaitu
mempertahankan informasi dari dunia dalam bentuk sensoris asalnya dalam
beberapa saat, tidak lebih lama ketika murid menerima sensasi visual, suara,
dan sensasi lainnya.
2.
Memori jangka pendek, yaitu
sistem memori berkapasitas terbatas dimana informasi dipertahankan sekitar 30
detik, kecuali informasi itu diulang atau diproses lebih lanjut, dimana dalam
kasus itu daya tahan simpanannya dapat lebih lama.
3.
Memori jangka panjang adalah tipe
memori yang menyimpan banyak informasi selama periode waktu yang lama secara
relatif permanen. Memori jangka panjang pada dasarnya tak terbatas.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar