Selasa, 17 Juni 2014

BELAJAR





          Proses belajar atau pembelajaran adalah fokus utama dalam psikologi pendidikan. Ketika orang ditanya apa fungsi sekolah, maka biasanya mereka menjawab, “membantu murid untuk belajar”. Belajar adalah proses perubahan dari tidak  bisa menjadi bisa, dan sifatnya terus menerus. Istilah pembelajaran (learning) dapat didefinisikan sebagai pengaruh permanen atas prilaku, pengetahuan, dan keterampilan berpikir, yang diperoleh melalui pengalaman. Cakupan pembelajaran sangat luas (Domjan, 2000, 2002). Pembelajaran melibatkan prilaku akademik dan non—akademik. Pembelajaran berlangsung di sekolah dan di mana saja di seputar dunia anak.
         
Pendekatan Behavioral dan Kognitif dalam Pembelajaran
          Behaviorisme adalah pandangan yang menyatakan bahwa perilaku harus dijelaskan melalui pengalaman yang dapat diamati, bukan dengan proses mental. Menurut kaum berhavioris, perilaku adalah segala sesuatu yang kita lakukan dan bisa dilihat secara langsung. Misalnya, anak membuat poster, guru tersenyum pada anak, murid mengganggu murid lain, dan sebagainya. Menurut Behavioris, proses mental seperti pemikiran, perasaan, dan motif, bukan subjek yang tepat untuk ilmu perilaku sebab semuanya itu tidak bisa diobservasi secara langsung.
          Kognitif menurut Muhibbin Syah adalah pandangan yang  lebih menekankan arti penting proses internal, mental manusia. Dalam pandangan para ahli kognitif, tingkah laku manusia yang tampak tak dapat diukur dan diterangkan tanpa melibatkan proses mental, seperti : motivasi, kesenjangan, keyakinan, dan sebagainya. Psikologi semakin cenderung kepandangan kognitif selama dekade terakhir abad ke-20 dan penekanan kognitif ini terus  berlanjut sampai sekarang. Dalam bukunya Sntrock mengemukakan ada empat pendekatan kognitif dalam pembelajaran, yaitu: Kognitif Sosial, Pemrosesan Informasi Kognitif, Konstruktivis Kognitif, dan Konstruktivis Sosial.
Dalam pendekatan Behavioral, banyak pendekatan dalam pembelajaran yang dikemukakan oleh para ahli, diantaranya adalah: Pengkondisian Klasik, yang ditemukan dari hasil eksperimen Ivan Pavlof, seorang psikolog Rusia pada awal tahun 1900-an, mengemukanakan suatu tipe pembelajaran di mana suatu organisme belajar untuk mengaitkan atau mengasosiasikan stimulus. Dalam pengkondisian klasik, stimulus netral (seperti melihat sesorang) diasosiasikan dengan stimulus yang bermakna (seperti makan) dan menimbulkan kapasitas untuk mengeluarkan respon yang sama. Untuk memahami teori Pavlov tersebut, kita harus memahami dua tipe stimuli dan dua tipe respons: unconditioned stimulus (US), unconditioned response (UR), conditioned stimulus (CS), dan conditioned respons (CR). Pengkondisian klasik merupakan sebentuk pembelajaran asosiatif dimana stimulus netral menjadi diasosiasikan dengan stimulus yang bermakna dan menimbulkan kemampuan untuk mengeluarkan respon yang serupa.
Pendekatan behavioral dalam pembelajaran yang lain adalah Pengkondisian Operan. Pengkondisian operan juga dinamakan pengkondisian instrumental adalah sebentuk pemberlajaran di mana konsekuensi-konsekuensi dari prilaku menghasilkan perubahan dalam probabilitas prilaku itu akan diulangi. Pengkondisian klasik merupakan hasil pandangan dari tokoh psikolog E. L Thorndike dan Skinner. Dari hasil penelitiannya Thorndike mengemukakan hukum efek (law effect) yang menyatakan bahwa prilaku yang dikuti dengan hasil positif akan diperkuat dan bahwa prilaku yang diikuti hasil negatif akan diperlemah. Kemudian Skinner memperluas ide Thorndike ini dengan penguatan (reinforcement) dalam meningkatkan probabilitas bahwa suatu prilaku akan terjadi dan hukuman (punishment) yang merupakan konsekuensi yang menurunkan probabilitas suatu prilaku akan terjadi. Maka disini terdapat penguatan yang positif dan penguatan yang negatif.

Analisis Prilaku Terapan dalam Pendidikan
       Analisis perilaku terapan adalah penerapan prinsip pengkondisian operan untuk mengubah prilaku manusia. Ada tiga penggunaan analisis prilaku yang penting dalam bidang pendidikan, yaitu: meningkatkan prilaku yang diinginkan, menggunakan dorongan (prompt) dan pembentukan (shapping), dan mengurangi prilaku yang tidak diharapkan. (Alberto & Troutman, 1999). Aplikasi analisis prilku terapan seringkali menggunakan serangkaian langkah. Langkah ini biasanya dimulai dengan beberapa observasi umum dan kemudian menentukan perilaku sasaran spesifik yang perlu diubah, dan mengamati kondisi antesedennya. Kemudian ditentukan tujuan behavioralnya, memperkuat atau menghukum perilaku yang dipilih, melakukan program manajemen perilaku, dan mengevaluasi kesuksesan atau kegagalan program tersebut.

Pendekatan Kognitif dalam Pembelajaran
       Sebaimana yang telah dikemukakan pada bagian sebelumnya ada 4 (empat) pendekatan kognitf dalam pembelajaran, yaitu: Kognitif Sosial, Pemrosesan Informasi Kognitif, Konstruktivis Kognitif, dan Konstruktivis Sosial. Kita akan mempelajari lebih lanjut tentang pendekatan-pendekatan ini.
          Teori Kognitif Sosial Bandura menyatakan bahwa faktor sosial dan kognitif, dan juga faktor prilaku, memainkan peran penting dalam pemberlajaran. Arsitek utama teori kognitif sosial adalah Albert Bandura (1986). Dia menagatakan bahwa ketika murid belajar, mereka dapat mempresentasikan pengalaman mereka secara kognitif. Faktor kognitif mencakup ekspektasi, keyakinan, strategi, pemikiran dan kecerdasan. Bandura mengemukakan:
ü  Kognisi mempengaruhi perilaku.
ü  Perilaku mempengaruhi kognisi.
ü  Lingkungan mempengaruhi prilaku.
ü  Perilaku mempengaruhi lingkungan.
ü  Kognisis mempengaruhi lingkungan.
ü  Lingkungan mempengaruhi kognisi.
Kontibusi lain dari Bandura adalah pemberlajaran observasional yang melibatkan faktor kognisi. Pembelajaran observasional juga dinamakan imitasi atau modeling, adalah pembelajaran yang dilakukan ketika seseorang mengamati dan meniru perilaku orang lain. Kapasitas untuk mempelajari pola perilaku dengan observasi dapat mengeleminasi pembelajaran trial and error yang membosankan. Dalam banyak kasus, pembelajaran observasional membutuhkan lebih sedikit waktu ketimbang pengkondisian operan. Model pembelajaran kontemporer Bandura memfokuskan pada proses spesifik dalam pembelajaran, yaitu: Atensi (perhatian), retensi, produksi, dan motivasi.
Pendekatan pemrosesan informasi menyatakan bahwa murid mengolah informasi, memonitornya, dan menyusun strategi berkenaan dengan informasi tersebut. Inti dari pendekatan ini adalah proses memori dan proses berpikir (thingking). Menurut pendekatan ini, anak secara bertahap mengembangkan kapasitas untuk memproses informasi, dan karenanya secara bertahap pula mereka bisa mendapatkan pengetahuan dan keahlian yang kompleks. Salah seorang tokoh pendekatan permrosesan informasi adalah Robert Siegler (1998), yang mendeskripsikan tiga karakteristik utama dari pendekatan pemrosesan informasi tersebut, yaitu: proses berpikir, mekanisme pengubah, dan modifikasi diri. Siegler berpendapat dalam pemrosesan informasi fokus utamanya adalah pada peran mekanisme pengubah dalam perkembangan. Dia percaya ada empat mekanisme yang bekerjasama dalam perubahan kognitif anak, yaitu: encoding (penyandian), otomatisasi, konstruksi strategi, dan generalisasi.
Memori atau ingatan adalah retensi informasi. Para psikolog mempelajari bagaimana nformasi disimpan dan diletakkan di dalam memori, bagaimanak ia dipertahankan atau disimpan setelah disandikan (encoded), dan bagaimana ia ditemukan atau diungkap kembali untuk tujuan tertentu dikemudian hari.
Encoding = memasukkan informasi kedalam memori.
Penyimpanan = mempertahankan informasi dari waktu ke waktu.
Pengambilan = mengambil informasi dari gudang memori.
Pengulangan (rehearsal), adalah repetisi informasi dari waktu ke waktu agar informasi lebih lamba berada di dalam memori. Pengulangan akan bekerja dengan baik apabila murid menyandikan dan mengingat daftar  item untuk priode waktu yang singkat. Pemrosesan informasi selanjutnya setelah pengulangan adalah pemrosesan mendalam.
Penyimpanan, setelah menyandikan informasi, murid perlu mempertahankan atau menyimpan informasi. Tiga simpanan utama dalam memori adalah:

1.     Memori sensoris, yaitu mempertahankan informasi dari dunia dalam bentuk sensoris asalnya dalam beberapa saat, tidak lebih lama ketika murid menerima sensasi visual, suara, dan sensasi lainnya.
2.    Memori jangka pendek, yaitu sistem memori berkapasitas terbatas dimana informasi dipertahankan sekitar 30 detik, kecuali informasi itu diulang atau diproses lebih lanjut, dimana dalam kasus itu daya tahan simpanannya dapat lebih lama.
3.    Memori jangka panjang adalah tipe memori yang menyimpan banyak informasi selama periode waktu yang lama secara relatif permanen. Memori jangka panjang pada dasarnya tak terbatas.
 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar